Rabu, 13 Mei 2009

STUDI KELAYAKAN USAHA

A. PENTINGNYA STUDI KELAYAKAN USAHA

Studi Kelayakan Usaha atau disebut juga analisis proyek bisnis merupakan penelitian tentang layak atau tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan menguntungkan secara terus menerus. Studi ini pada dasarnya membehas berbagai konsep dasar yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihan proyek bisnis agar mampu memberika manfaat ekonomis dan sosial sepanjang waktu. Dalam studi ini, pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha.

Hasil studi kelayakan usaha dapat digunakan untuk :

  1. Merintis usaha baru, misalnya membuka toko, membangun pabrik, dan lain sebagainya.

  2. Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya menambah kapasitas pabrik, memperluas skala usaha, dan sebagainya.

  3. Memilih jenis usaha atau investasi yang paling menguntungkan, misalnya pilihan usaha dagang, perakitan, dan sebagainya.

Pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studi kelayakan usaha diantaranya :

  1. Pihak Wirausaha ( Pemilik Perusahaan )

Dalam Kewirausahaan, studi kelayakan usaha dilakukan agar kegiatan usaha tidak menaglami kegagalan dan memberikan keuntungan sepanjang waktu. Studi Kelayakan Usaha juga berfungsi sebagai laporan, pedoman, dan bahan pertimbangan untuk merintis dan mengembangkan usaha atau melakukan investasi baru.

  1. Investor dan Penyandang Dana

Studi Kelayakan Usaha penting untuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan sebagai jaminan atas modal yang ditanamkan atau dipinjamkan, apakah memberikan jaminan pengembalian investasi yang memedai atau tidak. Oleh investor, Studi Kelayakan Usaha digunakan sebagai pertimbangan layak atau tidaknya investasi dilakukan.


  1. Masyarakat dan Pemerintah

Bagi Masyarakat, Studi Kelayakan Usaha diperlukan sebagai kajian apakah usaha yang didirikan atau dikembangkan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya atau justru merugikan, seperti bagaimana dampak lingkungan, apakah positif atau negatif. Bagi Pemerintah, Studi Kelayakan penting untuk mempertimbangkan izin usaha atau penyediaan fasilitas lainnya.


B. PROSES DAN TAHAP STUDI KELAYAKAN USAHA

Studi Kelayakan Usaha dilakukan melalui empat tahap, yaitu :

  1. Tahap Penemuan Ide atau Perumusan Gagasan

Adalah tahap dimana wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Kemudian ide tersebut dirumuskan dan diidentifikasikan, misalnya kemungkinan-kemungkinan bisnis yang paling menguntungkan dalam jangka waktu panjang.

  1. Tahap Formulasi Tujuan

Adalah tahap perumusan visi dan misi bisnis yang akan diemban setelah bisnis tersebut diidentifikasi, apakah misinya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat diperlukan masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan yang langgeng, atau apakah visi dan misi bisnis yang dikembangkan tersebut benar-benar menjadi kenyataan atau tidak, semuanya dirumuskan dalam bentuk tujuan.

  1. Tahap Analisis

Penelitian dilakukan melalui proses sistematis yang dilakuakan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Penelitian dilakukan sesuai prosedur, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis, dan menarik kesimpulan.

Aspek-aspek yang harus diamati dan dicermati dalam tahap analisis meliputi :

    • Aspek Pasar

    • Aspek Teknik Produksi atau Operasi

    • Aspek Manajemen

    • Aspek Keuangan

Meliputi sumber dana dan penggunaanya, proyeksi biaya, pendapatan, keuntungan, dan arus kas.

  1. Tahap Keputusan

Setelah dievaluasi, dipelajari, dianalisis, dan hasilnya meyakinkan, maka langkah berikutnya adalah tahap pengambilann keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak.


C. ARTI STUDI KELAYAKAN BISNIS

Studi Kelayakan Bisnis adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha atau proyek. Studi Kelayakan atau disebut feasibility study merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak gagasan usaha atau proyek yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian ini adalah kemungkinan gagasan usaha atau proyek yang akan dilaksanakan memberikan manfaat (benefit), baik financial benefit maupun social benefit. Proyek-proyek yang dinilai dari segi social benefit adalah proyek yang dinilai dari segi manfaat yang diberikan proyek terhadap perkembangan perekonomian masyarakat secara keseluruhan. Dan kegiatan usaha atau proyek yang dinilai dari segi financial benefit adalah usaha yang dinilai dari segi penanaman modal atau investasi yang diberikan untuk pelaksanaan usaha tersebut. Umumnya, proyek yang dinilai dari segi social benefit adalah proyek-proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah dan organisasi-organisasi sosial. Sedangkan proyek yang dinilai dari segi financial benefit pada umumnya adalah proyek-proyek yang dilaksanakan oleh pengusaha secara individu yang menanamkan modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan dalam proyek. Sasaran yang ingin dicapai dalam analisis financial adalah hasil dari modal saham (equity capital) yang ditanam dalam usaha. Kegiatan usaha yang yang lebih mengutamakan penilaian social benefit disebut dengan analisis evaluasi proyek, sedangkan kegiatan usaha yang lebih mengutamakan financial benefit sering disebut dengan analisis studi kelayakan bisnis. Dari ruang lingkup pembahasannya, analisis evaluasi proyek lebih luas daripada analisis studi kelayakan bisnis. Studi Kelayakan Bisnis lebih mengutamakan kelayakan dari suatu gagasan usaha dilihat dari pengusaha secara individu. Sedangkan evaluasi proyek melihat kelayakan suatu proyek tidak hanya secara individu tetapi juga melihat dampak proyek terhadap masyarakat secara keseluruhan.

Faktor-faktor yang perlu dinilai dalam menyusun studi kelayakan bisnis adalah menyangkut dengan beberapa aspek antara lain aspek marketing, aspek teknis produksi, aspek manajemen, aspek lingkungan, dan aspek keuangan. Studi kelayakan bisnis yang disusun merupakan pedoman kerja, baik dalam penanaman investasi, pengeluaran bisaya, cara produksi, cara melaksanakan pemasaran, dan cara menentukan jumlah tenaga kerja beserta jumlah pemimpin yang diperlukan. Penilaian yang dilakukan dengan studi kelayakan bisnis orientasinya lebih bersifat mikro jika dibandingkan dengan evaluasi proyek.

Baik studi kelayakan bisnis maupun evalusi proyek sama-sama bertujuan untuk menilai kelayakan suattu gagasan usaha dan hasil dari penilaian kelayakan ini merupakan suatu pertimbangan apakah usaha tersebut diterima atau ditolak dan sebagai perbedaan di antara kedua analisis ini dapat dilihat dari segi ruang lingkup pembahasan serta metode penilaian yang dilakukan.


D. PERANAN STUDI KELAYAKAN BISNIS

Dari segi perbankan dan lembaga keuangan lainnya, Studi kelayakan bisnis penting untuk mengadakan penilaian terhadap gagasan usaha yang mempunyai sumber dana dari lembaga keuangan tertentu. Dengan studi kelayakan bisnis, dapat diketahui seberapa jauh gagasan usaha yang akan dilaksanakan mampu menutupi kewajiban-kewajiban serta prospeknya di masa yang akan datang.

Bagi penanam modal, studi kelayakan bisnis merupakan gambaran tentang usaha yang akan dikerjakan dan melalui studi kelayakan mereka dapat mengetahui prospek perusahaan dan kemungkinan keuntungan yang diterima. Dengan studi kelayakan dapat mengetahui jaminan keselamatan dari modal yang ditanam dan berdasarkan studi kelayakan ini pula mereka akan mengambil keputusan (decision making) terhadap penanaman investasi.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, studi kelayakan dikenal terutama menyangkut usaha-usaha dalam mencari dana dan kegiatan-kegiatan lainnya. Usaha pencarian dana dan kegiatan-kegiatan lainnya menuntut adanya studi kelayakan sebagai gambaran tentang kegiatan yang akan dikerjakan.

Peranan studi kelayakan dan analisis proyek dalam kegiatan pembangunan cukup besar dalam mengadakan penilaian terhadap kegiatan usaha yang akan dilaksanakan.

Manfaat yang dilihat dari segi social benefit pada umumnya lebih luas, seperti dampak proyek terhadap terbukanya kesempatan kerja, bertambahnya pendapatan ragional, bertambahnya sarana prasarana produksi, terbukanya daerah dari keterbelakangan, terjadinya perubahan pendidikan masyarakat, dan sebagainya. Untuk penilaian yang dilakuka dari segi social benefit kendatipun kurang memberi manfaat dari segi financial benefit, proyek tersebut dianggap layak (feasible) untuk dikembangkan. Demikian pula sebaliknya, apabila dilihat dari segi penanaman investasi dari private investor (perseorangan), kendatipun mempunyai tujuan utama financial benefit, dampak proyek banyak yang bersifat social benefit yang membantu tugas-tugas pemerintah baik dalam penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan, perubahan pola kerja, dan sebgainya.


E. STUDI KELAYAKAN BISNIS MEMERLUKAN BEBERAPA DISIPLIN ILMU

Untuk menyusun studi kelayakan bisnis diperlukan penilaian dari berbagai aspek, antara lain teknis dan teknologis, marketing, manajemen, keuangan, dan lingkungan.

Penilaian yang dilakukan dalam aspek teknis dan teknologis bertujuan untuk menilai sejauh mana gagasan usaha yang direncanakan layak untuk dikembangkan ditinjau dari segi aspek teknis dan teknologis. Sasaran yang dinilai dalam aspek ini antara lain lokasi usaha, proses produksi, rencana produksi, kebutuhan bahan baku, rencana pengadaan bahan, kebutuhan tenaga kerja, dan jadwal waktu pembangunan, serta pemilihan berbagai teknologi yang digunakan.

Aspek marketing adalah aspek yang diadakan penilaiannya dalam studi kelayakan bisnis, walaupun dari aspek teknis menunjukkan kelayakan tetapi bila tidak mempunyai pemasaran, tidak ada artinya proyek dilanjutkan. Pembahasan dalam aspek marketing bertujuan untuk menilai sejauh mana pemasaran produk dapat mendukung perkembangan usaha yang akan dilaksanakan. Pembahasan dilihat dari segi daya serap pasar terhadap produk, dan prospek di masa depan.

Pembahasan dalam aspek manajemen menyangkut struktur oraganisasi, jumlah karyawan, skill yang diperlukan dan jumlah upah atau gaji karyawan. Pembahasan ini bertujuan untuk menilai tentang kebijaksanaan personil yang perlu dilakukan.

Aspek keuangan merupakan aspek inti karena menentukan kelayakan usaha dari segi ekonomi dan keuangan. Pembahasan dilakukan dalam bidang yang menyangkut dengan biaya investasi, modal kerja, biaya operasi dan pemeliharaan, serta perhitungan pendapatan yang mungkin diterima. Dalam aspek kuangan juga dibahas mengenai proyeksi laba/ rugi yang bertujuan untuk mengetahui posisi keuangan dari usaha yang akan dilaksanakan disamping melihat dampak proyek terhadap perekonomian masyarakat secara keseluruhan.

Aspek lingkungan adalah aspek yang perlu mendapatkan perhatian, terutama dampak proyek terhadap lingkungan (pencemaran), faktor yuridis dan sosiopolitis yang berlaku di daerah tersebut.


F. ANALISIS KELAYAKAN USAHA

  1. Analisis Aspek Pemasaran

Untuk menganalisis aspek pemasaran, seorang wirausaha terlebih dahulu harus melakukan penelitian pemasaran dengan menggunakan sistem informasi pemasaran yang memadai berdasarkan analisis dan prediksi apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan memiliki peluang pasar yang memadai atau tidak. Dalam analisis pasar, biasanya terdapat beberapa komponen yang harus dianalisis dan dicermati, di antaranya :

    1. Kebutuhan dan keinginan konsumen. Barang dan jasa apa yang banyak dibutuhkan dan di inginkan konsumen? Berapa banyak yang mereka butuhkan? Bagaimana daya beli mereka? Kapan mereka membutuhkan? Jika kebutuhan dan keinginan mereka teridentifikasi dan memungkinkan terpenuhi, berarti peluang pasar bisnis kita terbuka dan layak bila dilihat dari kebutuhan / keinginan konsumen.

    2. Segmentasi Pasar. Pelanggan dikelompokan dan diidentifikasi, misalnya berdasarkan geografi, demografi, dan social budaya. Jika segmentasi pasar teridentifikasi, maka pasar sasaran akan dapat terwujud dan tercapai.

    3. Target. Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Berapa target yang ingin dicapai? Apakah konsumen loyal terhadap bisnis? Apakah produk yang ditawarkan dapat memberi kepuasan atau tidak? Jika konsumen loyal, maka potensi pasar tinggi.

    4. Nilai tambah. Wirausaha harus mengetahui nilai tambah produk dan jasa pada setiap rantai pemasaran, mulai dari pemasok, agen, hingga konsumen akhir. Nilai tambah barang dan jasa biasanya diukur dengan harga, misalnya berapa harga dari pabrik pemasok, harga setelah di agen, dan harga setelah ke konsumen. Dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan dapat diketahui tinggi atau rendah.

    5. Masa hidup produk. Harus dianalisis apakah masa hidup produk dan jasa bertahan lama atau tidak. Apakah ukuran lama masa produk lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba sampai modal kembali atau tidak. Jika masa produk lebih lama, berarti potensi pasar tinggi. Harus dianalisis juga apakah produk industri baru atau industri lama, berarti potensi pasar tinggi. Harus dianalisis juga apakah produk industri baru atau industri lama sudah mapan atau produk industri justru sedang menurun. Jika produk industri baru sedang tumbuh, maka potensi pasar tinggi.

    6. Struktur pasar. Harus dianalis apakah barang dan jasa yang akan dipasarkan termasuk pasar persaingan tidak sempurna (seperti monopoli, oligopoli, dan monopolistik), atau pasar persaingan sempurna. Jika barang dan jasa termasuk jenis pasar persaingan tidak sempurna, berarti potensi pasar tinggi dibandingkan bila produk termasuk pasar persaingan sempurna.

    7. Persaingan dan strategi pesaing. Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggi atau rendah. Jika persaingan tinggi, berarti peluang pasar rendah. Wirausaha harus membandingkan keunggulan pesaing dilihat dari strategi produk, harga, jaringan distribusi, promosi dan tingkat penggunaan teknologinya. Jika pesaing lebih unggul, berarti bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan akan lemah dalam persaingan. Untuk memenangkan persaingan, tentu saja bisnis tersebut harus lebih unggul daripada pesaing.

    8. Ukuran pasar. Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi, berarti pasar potensial. Misalnya, dengan volume penjualan usaha skala kecil sebesar 5 milyar pertahun atau sebesar Rp 10juta perhari, berarti ukuran pasar cukup besar.

    9. Pertumbuhan pasar. Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan. Jika pertumbuhan pasar tinggi (misalnya lebih dari 20 persen) berarti potensi pasar tinggi.

    10. Laba kotor. Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah? Jika profit margin kotor lebih dari 20 persen, berarti pasar potensial.

    11. Pangsa Pasar. Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Jika pangsa pasar menurut proyeksi meningkat bahkan, bahkan setelah lima tahun mencapai 40 persen, berarti bisnis yang akan dilakukan atau dikembangkan memiliki pangsa pasar yang tinggi.


      1. Analisis Aspek Produksi/Operasi

Beberapa unsur dari aspek produksi/operasi yang harus dianalisis adalah :

a) Lokasi Operasi

Untuk bisnis hendaknya dipilih lokasi yang paling strategis dan efisien, baik bagi perusahaan itu sendiri maupun bagi pelanggannya. Misalnya dekat ke pemasok, ke konsumen, ke alat transportasi, atau diantara ketiganya. Disamping itu, lokasi bisnis harus menarik agar konsumen tetap loyal.

b). Volume operasi

Volume operasi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan kapasitas. Volume operasi yang berlebihan akan menimbulkan masalah baru dalam penyimpanan/penggudangan yang pada akhirnya mempengaruhi harga pokok penjualan.

  1. Mesin dan peralatan

Mesin dan peralatan harus sesuai dengan perkembangan teknologi masa kini dan yang akan datang serta harus disesuaikan dengan luas produksi agar tidak terjadi kelebihan kapasitas.

  1. Bahan baku dan bahan penolong

Bahan baku dan bahan penolong serta sumberdaya yang diperlukan harus cukup tersedia. Persediaan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan sehingga biaya bahan baku menjadi efisien.

  1. Tenaga kerja

Berapa jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan bagaimana kualifikasinya. Jumlah dan kualifikasi karyawan harus disesuaikan dengan keperluan jam kerja dan kualifikasi pekerjaan untuk menyelesaikannya.



  1. Tata letak

Tata ruang atau tata letak berbagai fasilitas operasi harus tepat dan prosesnya praktis sehingga dapat mendukung proses produksi.

      1. Analisis Aspek Manajemen

Dalam menganalisis aspek-aspek manajemen terdapat beberapa unsure yang harus dianalisis, seperti

    1. Kepemilikan

Harus dipertimbangkan apakah unit bisnis yang akan didirikan milik pribadi/perseorangan atau milik bersama (persekutuan seperti CV, PT, dan bentuk badan usaha lainnya) serta apa saja keuntungan dan kerugian dari unit bisnis yang dipilih tersebut. Hendaknya dipilih yang tidak berisiko terlalu tinggi dan menguntungkan.

    1. Organisasi

Jenis organisasi apa yang diperlukan? Apakah organisasi lini, staf, atau bentuk lainnya. Tentukan jenis yang paling tepat dan efisien.

    1. Tim Manajemen

Apakah bisnis akan dikelola sendiri atau melibatkan orang lain secara professional, hal ini bergantung pada skala usaha dan kemampuan yang dimiliki wirausaha. Bila bisnis merupakan skala besar, maka sebaiknya dibentuk tim manajemen yang solid.


      1. Analisis Aspek Keuangan

Analisis aspek keuangan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :

  1. Kebutuhan dana

Yaitu kebutuhan dana untuk operasional perusahaan, misalnya besarnya dana untuk aktiva tetap, modal kerja, dan pembiayaan awal.

b) Sumber dana

Ada beberapa sumber dana yang layak digali, yaitu sumber dana internal dan modal eksternal.



  1. Proyeksi neraca

Sangat penting untuk mengetahui kekayaan perusahaan, serta kondisi keuangan lainnya.

  1. Proyeksi laba rugi

Proyeksi laba rugi dari tahun ke tahun menggambarkan perkiraan laba atau rugi dimasa yang akan datang.

  1. Proyeksi arus kas

Dari arus kas dapat dilihat kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban keuangannya.


G. KRITERIA INVESTASI

Untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu investasi yang dilakukan dan menguntungkan secara ekonomis, dipergunakan empat kriteria.

Rumusnya:

Arus kas bersih = Laba setelah pajak + penyusutan + (1-tarif pajak).bunga


Tabel Proyeksi Arus Kas

Tahun

Laba Setelah Pajak

Penyusutan

Bunga

Perolehan

0

1

2

3

1.000.000

2.500.000

3.250.000

6.500.000

100.000

350.000

500.000

1.000.000

0,18

0,20

0,22

0,24

1.100.000

2.850.000

7.750.000

7.500.000


a. Periode pembayaran kembali

Periode pembayaran kembali sangat penting, yakni untuk menghitung jangka waktu pengembangan modal. Semakin cepat periode pembayaran kembalinya, maka semakin baik bisnis tersebut. Periode pembayaran kembali adalah periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi. Untuk menghitung waktu pengembalian investasi tersebut, maka digunakan rumus

Periode Pembayaran Kembali : Nilai Investasi / Kas Masuk Bersih x 1 tahun

Perhitungan dengan menggunakan peride pembayaran kembali seperti di atas masih memiliki kelemahan karena tidak memperhitungkan unsur waktu.

Jika periode pembayaran kembali lebih pedek waktunya daripada periode pembayaran maka usulan investasi dapat diterima.

Perlu diingat bahwa suatu bisnis memiliki keuntungan ekonomis apabila laba yang diperoleh lebih dari nol.

Dalam perhitungan laba seperti di atas terdapat kelemahan sebab tidak memasukkan unsu waktu dan unsur bunga atau tingkat pengembalian investasi. Suku bunga atau tingkat pengembalian adalah konsep periodik untuk mengukur tingkat pengembalian investasi . untuk mengukur suku bunga biasanya digunakan suku bunga bank yang berlaku secara umum atau berdasarkan tingkat pengembalian minimum yang diharapkan investor.

Dalam menilai criteria investasi unsure waktu dan suku bunga harus dimasukkan, seperti pada penilaian criteria nilai sekarang bersih.

b. Kriteria Nilai Sekarang Bersih

Perlu diperhatikan bahwa nilai uang sebagai manfaat ekonomi dari usaha yang diperkirakan akan diterima di masa yang akan datang tidak sama dengan nilai uang yang diterima sekarang karena adanya faktor suku bunga dan besarnyabiaya yang di analisis sepanjang waktu. Oleh sebab itu, dalam studi kelayakan usaha unsur waktu dan suku bunga harus diperhitungkan.


c. Kriteria Rasio Biaya Manfaat

Apabila nilai BCR > 1, maka investasi dalam mesin baru pada perusahaan tersebut layak secara ekonomis. Sebaliknya jika nilai BCR<1,>


d. Kriteria Tingkat Pengembalian Internal

Tingkat Pengembalian internal (internal rate of return ----IRR) adalah tingkat bunga (interest rate---i) yang membuat nilai sekarang bersih (net present value----NPV) menjadi nol atau disebut juga indeks profitabilitas (profitability index---PI. Kriteria IRR adalah :

Bila IRR > MARR, maka bisnis layak secara ekonomis

Di mana

MARR = Minimum Atractive Rate of Return

IRR dapat dihitung dengan cara coba-coba memasukkan tingkat bunga, yaitu untuk mengetahui secara pasti berapa besar tingkat bunga yang membuat NPV = 0.


KESIMPULAN

Studi Kelayakan Usaha atau disebut juga analisis proyek bisnis adalah penelitian tentang layak atau tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan menguntungkan secara terus menerus. Hasil studi kelayakan usaha dapat digunakan untuk : Merintis usaha baru, Mengembangkan usaha yang sudah ada dan memilih jenis usaha atau investasi yang paling menguntungkan. Pihak yang memerlukan dengan studi kelayakan usaha yakni Pihak Wirausaha, Investor, masyarakat dan Pemerintah. Studi Kelayakan Usaha dilakukan melalui Tahap Penemuan Ide, Formulasi Tujuan, Analisis serta Keputusan.

Pentingnya studi kelayakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak gagasan usaha atau proyek yang direncanakan. Dari segi perbankan dan lembaga keuangan lainnya, Studi kelayakan bisnis penting untuk mengadakan penilaian terhadap gagasan usaha yang mempunyai sumber dana dari lembaga keuangan tertentu. Bagi penanam modal, studi kelayakan bisnis merupakan gambaran tentang usaha yang akan dikerjakan dan melalui studi kelayakan mereka dapat mengetahui prospek perusahaan dan kemungkinan keuntungan yang diterima Dalam kegiatan kemasyarakatan, studi kelayakan dikenal terutama menyangkut usaha-usaha dalam mencari dana dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Peranan studi kelayakan dan analisis proyek dalam kegiatan pembangunan cukup besar dalam mengadakan penilaian terhadap kegiatan usaha yang akan dilaksanakan Untuk menyusun studi kelayakan bisnis diperlukan penilaian dari berbagai aspek, antara lain teknis dan teknologis, marketing, manajemen, keuangan, dan lingkungan.

Aspek yang perlu dianalisis dalam studi kelayakan yaitu Analisis aspek pemasaran, Analisis aspek produksi/operasi, analisis aspek manajemen dan analisis aspek keuangan. Kriteria untuk mengetahui layak atau tidaknya investasi dilakukan menguntungkan secara ekonomis yaitu Periode pembayaran kembali, kriteria nilai sekarang bersih, Kriteria Rasio Biaya Manfaat dan Kriteria Tingkat Pengembalian Internal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar